Pamor Mal Lembuswana Samarinda Semakin Pudar, Banyak Pedagang Gulung Tikar
SAMARINDA — Mal Lembuswana, pusat perbelanjaan legendaris di Kota Samarinda yang sejak berdiri pada 1998 pernah menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dan pengunjung dari berbagai kalangan, kini menghadapi kenyataan pahit. Lama-kelamaan pamornya semakin meredup dan banyak pedagang terpaksa berhenti berjualan atau gulung tikar, terutama di area lantai tiga yang dulunya menjadi fokus utama bisnis seperti toko ponsel dan aksesoris.
Suasana Lantai Tiga yang Sepi
Pantauan kondisi di Mal Lembuswana pada pertengahan Februari 2026 menunjukkan suasana yang sangat kontras dibanding masa kejayaannya. Lorong-lorong di lantai tiga yang dulu ramai oleh pedagang dan pembeli kini hanya menyisakan deretan kios yang terkunci rapat. Beberapa fasilitas yang masih terlihat aktif di lantai ini hanya Matahari Department Store, area permainan anak, dan arena bombomcar, sementara kios ponsel dan aksesoris hampir semuanya sudah tutup.
Salah satu pedagang aksesoris telepon genggam, Lisianto, yang berjualan di Lembuswana sejak 2014, mengungkapkan bahwa penjualan kini jauh menurun. Ia harus memutuskan pindah dari lantai tiga ke lantai dua karena dampak lesunya bisnis. Ia menyebutkan bahwa omzet penjualan kini turun drastis hingga sekitar 70 persen dibandingkan pada 2014, meskipun sempat meningkat sedikit setelah masa pandemi COVID-19.
Faktor Penyebab Meredupnya Mal
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama menurunnya pamor Mal Lembuswana dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah masuknya pusat perbelanjaan baru yang menawarkan fasilitas lebih modern, termasuk bioskop dan layanan hiburan terkini, yang tidak tersedia di Lembuswana. Hadirnya Samarinda Central Plaza pada 2001 dan Bigmall Samarinda pada 2014 menarik minat pengunjung ke lokasi yang lebih segar dan lengkap, sehingga mengurangi daya tarik mal tertua tersebut.
Selain persaingan dengan pusat perbelanjaan modern, tren belanja masyarakat juga berubah sejak pandemi, di mana aktivitas daring dan kebutuhan hiburan semakin meningkat di tempat yang lebih baru dan berfasilitas lengkap. Hal ini turut mempengaruhi tingkat kunjungan ke mal-mal tradisional seperti Lembuswana yang belum banyak mengadopsi inovasi baru untuk menarik pengunjung.
Masa Depan Mal Lembuswana Masih Menunggu Kejelasan
Menurut pengakuan beberapa pedagang, masa pakai Mal Lembuswana diperkirakan akan habis pada sekitar pertengahan 2026, sehingga banyak pihak bertanya-tanya tentang nasib pusat perbelanjaan ini di masa mendatang. Dengan kondisi kios yang kosong dan pengunjung yang berkurang drastis, kelangsungan operasional Lembuswana kini menjadi teka-teki besar di tengah perkembangan urban dan ekonomi di Samarinda.
Pada tahun-tahun sebelumnya, keberadaan Lembuswana sempat menjadi simbol kehidupan komersial di kota ini, namun perubahan pola konsumsi masyarakat serta kehadiran mal-mal baru telah menjadikannya semakin tertinggal. Ke depan, kemungkinan revitalisasi atau transformasi fungsi ruang ini menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan banyak pihak untuk mengembalikan manfaatnya bagi perekonomian setempat.















